Kalau saat ini kita mendengar bahwa tingkat inflasi tahun 1990 yang lalu sekitar 9,53 persen atau hampir 10 persen, maka kalangan yang menderita penurunan daya beli dari pendapatannya selama ini. Dengan kata lain, jika mereka tidak mengalami kenaikan gaji atau pendapatan lainnya maka mereka akan mengalami kenaikan gaji atau pendapatan lainnya maka mereka akan mengalami penurunan gaji dalam arti yang riil sebesar angka inflasi itu, kendati secara nominal jumlah gaji atau pendapatan yang diterima adalah tetap.

Bila kalangan yang berpenghasilan tetap itu mengalami penurunan gaji dalam arti yang riil, kendati dalam jumlah yang nominal uang yang diterima tetap sama. Oleh karena itu, biasanya tabungan mereka bisa pula menurun. Dan hal ini bisa saja punya dampak terhadap simpanan mereka di koperasi, baik itu simpanan wajib, simpanan sukarela, ataupun simpanan lain.

Manakala mau diusahakan agar volume simpanan naik dengan jumlah kenaikan yang paling tidak sama dengan satu tahun sebelumnya, maka dibutuhkan semacam extra efforts (upaya ekstra), antara lain dengan menekankan tingkat konsumsi. Umpamanya, bila tahun lalu kita mengisap rokok sebungkus sehari sekarang diturunkan menjadi setengah bungkus sehari. Uang untuk membeli setengah bungkus rokok itu setiap hari dimasukkan sebagai simpanan sukarela dalam koperasi. Contoh lain yang sederhana sesuai konteks anggota ini diangkat karena ada perlunya juga kita membicarakan hal-hal yang kecil dan kelihatan sederhana agar mudah dipraktekkan.

Kecuali itu, simpanan sukarela dapat juga dipupuk bila anggota koperasi yang berpenghasilan tetap mencari tambahan pada sore hari dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang produktif. Upaya produktif anggota (income generating) yang dapat dipacu anggota atau keluarga anggota untuk menambah penghasilan ini dapat dibiayai oleh koperasi-koperasi dengan memberikan pinjaman produktif kepada para anggota yang membutuhkannya. Untuk ini dibutuhkan kejelian dari aneka pihak dalam koperasi.

Pertumbuhan Koperasi

Secara ideal kita dapat mengatakan, bila koperasi-koperasi pada suatu tahun dapat meningkatkan simpanan-simpanan secara baik dan teratur, antara lain, dapat dilihat pada pertumbuhan simpanan di koperasi-koperasi lebih tinggi daripada pertumbuhan angka inflasi, maka koperasi-koperasi dapat memacu angka pertumbuhan koperasinya secara lebih rapih.

Dalam teori tentang pertumbuhan koperasi secara mikro biasanya ada rumusan sederhana yang dikemukakan, yakni pertumbuhan simpanan, pertumbuhan harta, pertumbuhan pinjaman dan SHU dari tahun ke tahun perlu ditata sedemikian rupa. Akibatnya, angka pertumbuhannya lebih tinggi daripada angka inflasi yang ada. Hal ini biasanya dipacu buat mendapatkan pegangan yang aman.

Idealnya pada koperasi-koperasi yang baik, biasanya dirangsang untuk menata pertumbuhan simpanan-simpanan, pinjaman, harta, cadangan, SHU, dana-dana ataupun volume usaha lebih tinggi daripada angka inflasi supaya ada pertumbuhan yang riil. Berkaitan dengan itu, maka pada rapat anggota tahunan biasanya para pengurus atau manajer koperasi dapat membuat perkiraan pertumbuhan dengan memasukkan perkiraan angka inflasi.

Dalam bahasan teori tentang koperasi dan inflasi sering digambarkan bahwa angkaa pertumbuhan dari aneka pos yang disebut diatas perlu lebih tinggi daripada angka inflasi tahunan untuk merangsang para anggota koperasi dan semua pihak dalam koperasi. Kecuali itu, agar memacu usaha yang penuh perhitungan dengan memperhatikan trend yang ada dalam gejolak ekonomi.

Karena koperasi pada hakikatnya lembaga ekonomi/lembaga bisnis yang perlu ditata secara rasional. Kendati koperasi memiliki watak sosial (social content), perhitungan rasional yang layak perlu pula dipacu supaya dapat menghasilkan surplus atau SHU yang memadai.

Bisa saja kita mengatakan: mengapa dalam bahasan tentang inflasi aspek simpanan yang perlu disoroti secara awal? Hal ini biasanya berangkat dari asumsi bahwa koperasi yang baik adalah koperasi yang dalam menggerakkan bisnisnya pada awalnya berpijak pada sumber internal financing (pendanaan dari dalam) yang perlu dimekarkan terus-menerus secara baik. Pendanaan dari luar biasanya merupakan pelengkap (matching) terhadap sumber-sumber yang dapat dimekarkan anggotanya.

Disarikan dari buku: Pengembangan Koperasi, Penulis: Thoby Mutis, Hal: 98 – 99.