Pengambilan keputusan meliputi berbagai aspek dan keadaan. Ada putusan-putusan yang rutin sifatnya, ada yang tidak pasti,ada yang meliputi berbagai segi dan seterusnya. Dasarnya pun berbeda-beda, ada yang intuisi, menghitung kancing baju, ada yang rasional dengan dibantu teknik-teknik ilmiah tertentu. Ada yang memerlukan waktu cepat ada yang harus diselesaikan dengan hati-hati dan memakan waktu yang relatif lama.

Pada hakikatnya proses pengambilan keputusan itu seyogyanya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Pengenalan persoalan yang dihadapi;
  2. Mengumpulkan data yang penting dan perlu yang berhubungan dengan persoalan yang dihadapi;
  3. Menganalisis data;
  4. Menemukan berbagai alternatif pemecahan soal;
  5. Memilih alternatif pemecahan soal yang terbaik;
  6. Implementasi alternatif yang dipilih;
  7. Follow-up.

Adapun unsur-unsur pengambilan keputusan itu menurut Wilson dan Alexis terdiri dari:

  1. Keadaan/sifat putusan yang ada dan lingkungan si pengambil keputusan.
  2. Orang yang mengambil keputusan bisa sendiri atau dipengaruhi oleh golongan tertentu.
  3. Tujuan bisa individual, golongan, lingkungan koperasi atau kombinasinya.
  4. Alternatif.
  5. Rankingnya
  6. Pilihan final.

Sampai saat ini teknik-teknik pengambilan keputusan dapat dikelompokkan dalam:

  1. Teknik kata hati nurani (judgment)
  2. Dasar-dasar manajemen
  3. Pendekatan sistem
  4. Teknik perilaku (behavioral)
  5. Pendekatan heuristis
  6. Teknik ekonomi dan finansial
  7. Metode statistik
  8. Model-model khusus

Penulis tidak berusaha untuk mengemukakan lebih lanjut teknik-teknik itu hanya ingin menunjukkan bahwa teknik-teknik itu ada, dapat dipelajari dan dapat dimanfaatkan.

Sebelum dilakukan proses analisa tentu saja orang yang akan mengadakan analisis soal harus mengadakan penilaian tentang data yang ada. Dengan perkataan lain penentuan soal yang sebenarnya mungkin terjadi setelah dilakukan analisa terhadap data beserta bukti-bukti.

Misalnya saja penentuan soal “bahwa koperasi tidak likuid” harus disertai dengan bukti-bukti yaitu berdasarkan alat-alat/teknik pembuktian tertentu misalnya bahwa current ratio rendah, quick ratio rendah, cash ratio rendah, analisa sumber-sumber dan penggunaan dana (dana jangka pendek untuk membelanjai kebutuhan modal jangka panjang) dan seterusnya. Dengan demikian orang harus menentukan persoalan atau mengetahui soal dengan jelas.

Kemudian untuk memperjelas analisa soal dilakukan pemecahan ke dalam aspek-aspek yang penting artinya ditemukan alasan-alasan, faktor-faktor atau sebab-sebab yang menimbulkan soal tersebut misalnya dalam hal ketidaklikuiditasan koperasi karena beberapa hal: kas terlalu sedikit, terlalu banyaknya persediaan, pesanan sedikit.

Dengan dikelompokkannya sebab-sebab tersebut akan dikenali sebab manakah yang menonjol yang paling mempengaruhi soal. Misalnya terlalu banyaknya persediaan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dengan diajukannya pertanyaan-pertanyaan dapatlah diketahui sebab pokok yang menimbulkan soal sehingga bisa dicarikan alternatif pemecahannya.

Persediaan banyak mungkin karena:

  1. Koperasi takut inflasi; jadi perlu dibeli banyak sekarang: apakah betul akan inflasi, apa perlu membeli banyak melampaui kebutuhan? Berapa kebutuhan persediaan sebenarnya? dan seterusnya.
  2. Pesanan-pesanan tidak ada, sehingga bahan tidak diproses.
  3. Beli banyak karena dapat potongan.

Sebab manakah yang benar? Bila telah dibuktikan dengan alasan-alasan yang kuat maka dapatlah ditentukan alternatif-alternatif pemecahannya.Misalnya timbulnya persediaan yang besar disebabkan karena pesanan tidak ada, hal ini dapat dicarikan alternatif pemecahannya berupa:

  1. Memperbesar usaha-usaha penjualan dengan menghubungi anggota satu per satu.
  2. Memikirkan pembuatan produk baru dengan menggunakan bahan yang ada, produk mana dicarikan yang dapat menciptakan permintaan.
  3. Menekan biaya sehingga harga produk dapat ditekan dan ini mungkin akan mendorong anggota untuk membeli pada koperasi.
  4. Mencari (produk) kontrakan di luar yang bahan mentahnya menggunakan bahan mentah yang dimiliki koperasi.
  5. Dan lain-lain.

Jadi koperasi perlu menentukan kebijaksanaan umum strategi (strategy) yaitu menaikkan pesanan/penjualan, kemudian menentukan alternatif-alternatif dan dari alternatif itu perlu dipilih kebijaksanaan khusus (policy) yang mana yang paling baik untuk ditentukan taktik yang perlu diamati untuk nantinya menghadapi pesaing di tempat.

 

Disarikan dari buku: Manajemen Koperasi edisi 5, Penulis: Prof. Dr. Sukanto Reksohadiprodjo, M.Com. Hal : 61 – 64.