Menteri Subroto menegaskan kembali, pembinaan koperasi di bidang pertanian tetap merupakan prioritas pertama sejalan dengan prioritas pembangunan. Kegiatan koperasi pertanian meliputi bidang pangan, palawija dan tanam-tanaman untuk industri dan ekspor. Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4/73, konsolidasi koperasi-koperasi pertanian dilakukan dengan membentuk BUUD/KUD yang pada hakikatnya merupakan koperasi pertanian serba usaha.

Dari sebab itu BUUD/KUD akan dikembangkan menjadi basis perkembangan perekonomian di desa. Pada tahun 1971 di DIY dibentuk 35 buah BUUD/KUD. Kini jumlahnya 2.744 buah diseluruh propinsi kecuali Irian Jaya. Di antaranya 1.050 buah telah menjadi KUD.

Menurut Menteri, faktor-faktor yang memungkinkan pertumbuhan koperasi khususnya faktor-faktor ekstern seperti iklim dan sarana pembiayaan sudah cukup memadai. Masalahnya: apakah kita semua dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya kondisi tersebut. Ini tergantung sepenuhnya pada kemampuan organisasi dan ketatalaksanaan koperasi, yang merupakan kursi suksesnya perkembangan perkoperasian.

Sementara itu Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dalam sambutannya melalui corong RRI Kamis malam, menyatakan: koperasi harus berusaha secara nyata serta menempatkan diri bukan hanya sebagai sarana ekonomi, melainkan juga sarana sosial untuk mendidik masyarakat dalam berorganisasi dan berdisiplin dengan adanya daya juang yang tinggi, supaya dapat menarik simpati masyarakat.

Pada awal Pelita I di daerah Jakarta jumlah koperasi 259 buah berbadan hukum dengan anggota 68.165 orang; jumlah simpanan Rp. 32.447.395,00 dan volume usaha Rp 86.827.542,00. Pada akhir Pelita I jumlah koperasi menjadi 472 buah berbadan hukum dengan anggota 103.628 orang; jumlah simpanan menjadi Rp 394.190.630,00 dan volume usaha Rp 3.876.062.869,00.

Menurut Bang Ali DKI Jakarta perhatian pemerintah akan tetap dititikberatkan pada koperasi-koperasi untuk kesejahteraan rakyat. Juga peningkatan keahlian bagi tenaga-tenaga pelaksanaan koperasi yang bersifat produktif/jasa dan konsumsi, sehingga mampu membina koperasi sebagai sarana ekonomi dan sosial.

Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) dalam pada itu menyatakan, tahun-tahun Pelita II akan menitikberatkan pembangunan-pembangunan koperasi-koperasi primer yang bergerak di bidang produksi pangan, peternakan, perkebunan rakyat dan kerajinan tangan sesuai dengan usaha pembinaan pemerintah melalui BUUD dan KUD. Dalam hubungan ini Dekopin merencanakan akan membentuk Lembaga Pendidikan Koperasi.

Menurut ketua II Dekopin Eddiwan, kesulitan utama yang dihadapi koperasi produksi ialah masalah tataniaga di samping permodalan. Koperasi hampir semuanya bergerak di bidang mikro-ekonomi dengan anggota-anggota yang tergolong ekonomi lemah. Sementara itu dalan operasinya harus berusaha menyaingi pedagang-pedagang biasa (tengkulak, PT dan sebagainya). Dari sebab itu perlu sekali kerja sama dan kesadaran antara para anggota koperasi dan pengurusnya.

 

Disarikan dari buku: Manajemen Koperasi edisi 5, Penulis: Prof. Dr. Sukanto Reksohadiprodjo, M.Com. Hal : 85 – 87