Sehubungan dengan usaha untuk memperkenalkan koperasi kredit, para penggerak menekankan pentingnya pendidikan bagi calon anggota. Atas dasar itu ada motto “tak ada koperasi yang tanpa pendidikan”. Oleh karena itu, penggerak koperasi mempersiapkan kursus-kursus formal maupun informal. Sebagai contoh, latihan dasar diselenggarakan untuk menanamkan motivasi sosial, kebiasaan untuk berhemat, dan menanamkan rasa percaya antar-anggota organisasi, kewirakoperasian, peluang pasar, tekanan pesaing koperasi, sinergi dalam koperasi.

Dalam setiap tipe latihan, para penggerak selalu menekankan visi dari organisasi sebagai suatu sistem sosial yang dapat memperkecil atau menghilangkan kondisi yang menekankan dan struktur kapitalis yang berorientasi pada keuntungan pribadi. Jadi, penggerak koperasi melalui analisis struktural, mengategorisasikan kelompok masyarakat dalam kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi dan tidak memiliki kekuatan, yang menguasai dan yang dikuasai, yang menjadi pusat perhatian dan yang tersingkirkan, golongan atas dan bawah.

Analisis struktural ini merupakan bagian dari proses membangkitkan semangat dan mempertumbangkan kekuatan dan kelemahan, rintangan-rintangan, serta kesempatan untuk berkembang. Analisis struktural ini kemudian dikaitkan dengan cara pandang integralistik tatkala kesejahteraan bersama (sosial) yang diutamakan, tetapi tidak mengorbankan individualitas termasuk harkat dan martabat dari para individu yang menggerakkan kesejahteraan bersama itu.

Dalam memberi pelayanan pelatihan maka para penggerak tinggal bersama calon anggota. Tinggal bersama penduduk adalah perlu. Melalui pendekatan ini persepsi umum dari para calon anggota dan penggerak dapat dipadukan dan masih ada tempat untuk berbagi pengalaman dan ide-ide secara informal. Tipe pendekatan ini telah ditemukan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai, khususnya di daerah pedesaan yang terisolasi. Strategi untuk tinggal bersama penduduk sangat berguna dalam memelihara solidaritas dan arti sebenarnya dari persaudaraan.

Dengan partisipasi maksimal dari peserta latihan, lalu pemahaman terjadi melalui interaksi yang berlanjut. Orang yang menjadi fasilitator dalam latihan akan lebih berperan sebagai konsultan dari pada seorang instruktur. Dalam usaha yang serupa, koperasi dapat juga menata aneka pilihan, antara lain, latihan untuk menjadi pelatih, latihan kepemimpinan, latihan usaha koperasi, latihan pengelolaan, dan pengawasan keuangan.

Berdasarkan pengalaman, ketika bekerja dengan koperasi di daerah pedesaan proses pendidikan dapat diperlancar melalui jalur komunikasi sebagai berikut:

  1. Bahasa daerah setempat
  2. Kontak dan diskusi secara formal dan informal
  3. Teknik audiovisual dan peralatan media massa yang lain
  4. Tukar menukar informasi antarkelompok organisasi dan individu
  5. Memunculkan citra positif dan pembudayaannya, dan
  6. Menata kunjungan lapangan secara teratur sekaligus memelihara komunikasi dua arah antara pemimpin koperasi dan pemimpin informal dan formal di masyarakat setempat.

Disarikan dari buku: Pengembangan Koperasi, Penulis: Thoby Mutis, Hal: 96 – 97.