Peranan wanita di Bangladesh yang paling tersohor dalam menggerakkan cooperativism, karena mereka menggerakkan dan menjadikan mitra Grameen Bank (GB) yang menjalankan semacam bank yang memberikan pinjaman tanpa jaminan barang. GB mendapat pujian di mana-mana termasuk dari Bank Dunia karena pinjaman yang diberikan tanpa agunan barang.

Pinjaman diberikan dalam kelompok-kelompok kecil, bila satu anggota mendapat kredit, anggota yang lain memberikan jaminan bahwa orang itu dapat membayar kembali. Jaminan diberikan atas dasar semangat kebersamaan dalam cooperativisme.

Tulang punggung dari kelompok-kelompok yang mendapat pinjaman dari GB tanpa agunan adalah para wanita atau ibu-ibu. GB ini sejak didirikan 1976 sengaja menggerakkan kelompok-kelompok wanita di Bangladesh sebagai ujung tombak, karena mereka merasa kebiasaan arisan yang ada dalam kalangan wanita di sana dapat dijadikan patokan sebagai kekuatan untuk menggerakkan simpanan dan pinjaman yang bernilai kebersamaan.

Seni mentransformasikan arisan tradisional menjadi bagian utama dalam koperasi merupakan hal menarik buat disimak.

GB merupakan contoh keberhasilan pinjaman yang diberikan tanpa jaminan barang (assets), tetapi oleh jaminan dari orang-orang yang bekerja sama dalam semangat coorporativism. Keberhasilan ibu-ibu dalam kelompok yang menjadi mitra GB sungguh mengagumkan, terutama dalam memunculkan peluang untuk memberikan berbagai kesempatan usaha yang disebut Income Generating Activites (IGA).

Pemerkerjaaan sendiri bagi para ibu dan wanita serta pria yang bekerja dalam sektor informal yang selama ini tidak dapat meraih fasilitas kredit dari bank, karena bank di sana masih mementingkan pemberian kredit kepada mereka yang dapat memberikan jaminan barang. Ibu-ibu di sana turut membantu menggerakkan pemerataan pendapatan di negeri itu melalui tatanan kelompok-kelompok kerja yang menyalurkan simpanan-simpanan.

Selain itu, para ibu di sana telah juga membentuk bank-bank desa milik koperasi-koperasi yang tersebar di berbagai daerah. Bank-bank koperasi saat ini di sana praktis dipimpin oleh para ibu yang mempunyai pengalaman berkoperasi secara cukup matang. Dalam percakapan dengan kami mereka mengatakan bahwa dalam pengembangan koperasi di Bangladesh saat ini posisi leadership dalam bank koperasi semakin ditentukan oleh para wanita.

Dari catatan Internasional Laboar Organization (ILO) terdapat keberhasilan Koperasi Lesotho. Ketika itu 75 persen dari anggotanya yang berjumlah 22.000 adalah wanita. Para wanita berperan sangat menonjol dalam leadership (kepemimpinan) koperasi. Keberhasilan mereka untuk terlibat secara aktif dalam aneka kegiatan koperasi sungguh mengagumkan. Akibatnya, sering dijuluki sebagai koperasi yang mampu mengembangkan partisipasi wanita sebagai subyek dalam pengembangan koperasinya.

Kini para anggota wanita banyak terlibat dalam kegiatan produktif yang disebut sebagai income generating activities yang memberikan penghasilan tambahan kepada mereka yang sebelumnya hanya menjadi ibu rumah tangga atau penyimpan yang setia uang milik suaminya, tetapi tidak dapat memanfaatkanya untuk mendatangkan benefit tambahan keluarga.

Keberhasilan model Lesotho juga disebabkan penggerak koperasi dapat memanfaatkan himpunan-himpunan arisan yang sudah ada seperti klub ibu-ibu (mother’s club) menjadi kelompok-kelompok integratif dalam koperasi. Karena arisan dinilai mereka sebagai transitory stage (tahapan transisi) untuk menjadi koperasi penuh.

Dalam proses penyadaran para penggerak koperasi selalu menggunakan arisan tradisional yang sudah ada didinamiskan menjadi koperasi. Seni mentransformasikan arisan tradisional menjadi bagian utama dalam koperasi merupakan hal menarik buat disimak.

Pengalaman Koperasi Lesotho ini juga sama halnya seperti yang digerakkan oleh kalangan ibu-ibu di Korea Selatan yang menggunakan KAE, semacam arisan ibu-ibu menjadi basis untuk pembentukan koperasi-koperasi yang berhasil menggerakkan IDA di negeri itu.

Sumber: Keuanganlsm.com.