Pada 9 Juni 2016, Koperasi Yayasan Penabulu dan Gerakan Hejo mencoba mencari simpul kerjasama program dan sinergi untuk membangun Jawa Barat. Ngariungan atau kumpul- kumpul ini dilakukan di Villa Alam Santosa Bandung Barat. Selain sosialisasi Koperasi, Penabulu juga memperkenalkan konsep keuangan desa dengan menggunakan software SIAP desa dan konsep Eko Wisata.

Hari mulai gelap ketika team Penabulu yang terdiri dari Agung Fajar, Uki dan Misan dari Koperasi Penabulu serta Arif dari program Eko Wisata , datang ke Villa yang bernuasa adat di daerah Pasir Impun. Disana kami disambut oleh para pemuka Gerakan Hejo yang kebanyakan adalah tokoh masyarakat di daerah Jawa Barat dari Karawang, Garut dan sekitar Bandung. Pertemuan ini diawali dengan buka puasa bersama khas kota parahyangan yakni kolak pisang dan nasi liwet.

Menurut Kang Eka Santosa, salah satu pendiri Gerakan Hejo dan pemilik villa Alam Santosa, Gerakan Hejo lahir dari keprihatinan akan tercerabutnya budaya adat dan kerusakan wilayah tatar Sunda. Oleh karena itu, menurutnya ada 3 pilar Hejo ini : Edukasi, Ekologi dan Ekonomi. Menurutnya kearifan lokal adat Sunda harus dipertahankan. Karena selain juga warisan budaya, kearifan lokal ini merupakan kekayaan masyarakat adat yang tidak ternilai harganya.

Dalam diskusi ini, sebenarnya gerakan Hejo sudah memiliki wilayah percontohan di Karawang. Disana sudah ada Koperasi Tunas Sejahtera yang berdiri sejak tahun 1990an dengan usaha peternakan bawal sampai dengan pengemasannya. Selajutnya kerjasama juga dilakukan dengan perusahaan di wilayah karawang seperti pupuk kujang, semen Indonesia dan Astra Karawang. Selain itu, kerajinan bamboo juga sudah mulai dipasarkan oleh koperasi.

Selain sisi ekonomi melalui Koperasi, Kang Eka juga berencana untuk mengembangkan Eco Wisata alam santosa. Selain sebagai sumber ekonomi, wisata ini juga akan mengedukasi para wisatawan akan pentingnya menjaga lingkungan dan mengenal kearipan lokal yang ada di tanah sunda ini. Kang Eka menuturkan, bahwa ada warga Perancis yang sempat menetap ditempat ini selama 6 bulan karena merasa tertarik dengan budaya Sunda ini.

Harapannya kedepan bisa lebih banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya budaya lokal dan menjaga lingkungan agar terjadi keseimbangan dalam kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment