Koperasi Incorporated, atau sejumlah koperasi yang bergabung menjadi satu dan dikelola secara profesional seperti layaknya swasta, menjadi salah satu kunci agar koperasi bisa bersaing di pasar global/ internasional, maupun pasar domestik. “Keungggulan koperasi seperti community empowerment (pemberdayaan masyarakat -red) juga bisa jadi kekuatan bersaing dengan swasta maupun BUMN maupun di pasar global sekalipun.Asal dikelola secara incorporated,saya yakin koperasi bisa bersaing,” ujar  Sekretaris Kemenkop dan UKM,Agus Muharram  dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Bagaimana Koperasi bisa Bersaing di Era Globalisasi” yang digelar Persatuan Pedagang Nahdliyin (HPN) di kantor PB Nahdhatul Ulama (NU), Jakarta, Kamis (3/11) malam.

Agus mengatakan, dari tiga pelaku ekonomi Indonesia saat ini, yaitu swasta, BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan koperasi, hanya koperasi yang tidak memiliki peran signifikan dalam deru roda perekonomian bangsa. Koperasi yang harusnya jadi soko guru perekonomian, kenyataannya menjadi badan usaha yang terpinggirkan dibanding swasta dan BUMN.

“Itulah kenyataannya, lihat saja di pasar modal, hanya ada dua yang memanfaatkannya,yaitu swasta murni dan BUMN saja, sementara koperasi kemana, ndak ada tempatnya’; kata Agus. Ia menegaskan, seharusnya koperasi pun bisa tercatat di pasar modal. Namun karena sizenya mayoritas kecil,pengelolaannya belum banyak yang profesional, maka jadilah pasar modal belum bisa menampung koperasi.

“Itulah kenapa koperasi Incorporated atau Coperative Incorporated, bisa dikedepankan untuk jadi solusi. Organisasi yang memiliki umat puluhan juta seperti NU ini harusnya punya seperti itu. Dimana koperasi NU dari hulu sampai hilir bersatu dikelola secara incorporated, seperti perusahaan swasta” katanya.

Ia memberi contoh, koperasi produksi di hulu seperti koperasi pertanian maupun perkebunan, bisa bergabung dengan koperasi produksi di hilir seperti koperasi olahan makanan dan sebagainya. Demikian juga dengan pasar captive yang harus digarap. “Misalnya NU yang memiliki jutaan umat, semuanya disuruh mengkonsumsi air mineral produksi koperasi NU, maka akan sangat cepat pertumbuhannya, “tambah Agus.

Misi Sosial

Agus Muharram mengakui salah satu yang menyebabkan koperasi tidak berkembang adalah, adanya pemikiran sempit terkait dengan tujuan dibentuknya koperasi. “Banyak orang yang hanya melihat tujuan dari pembentukan koerasi hanya dari sisi ekonomi saja, jika ia sudah sejahtera maka apa gunanya lagi ikut berkoperasi, “katanya.

Padahal esensi pembentukan koperasi tidak semata-mata tujuan ekonomi, namun juga misi sosial yang diemban didalamnya, mulai dari silaturahmi , membantu sesama sampai dengan aktualisasi diri.

Dinilai dari teori Toffler, koperasi pun masih ketinggalan dalam pengelolaaannya, yang masih banyak manual, sementara saat ini teknologi informasi yang  jamak digunakan. Makanya, Kemenkop dan UKM terus mendorong koperasi untuk terus mengembangka kapasitasnya sesuai dengan perkembangan terkini.

Agus menambahkan, Kemenkop dan UKM pun siap mendukung untuk membesarkan koperasi dari yang skalanya kecil sampai yang besar. “Meski anggaran Kementrian relatif kecil, namun kebijakan untuk koperasi dan UKM luar biasa, misalnya KUR (kredit Usaha Rakyat) yang subsidi suku bungannya saja bisa sampai Rp 30 triliun,’ katanya.

Kemenkop juga bisa mengerahkan LPDB (Lembaga Pengeloaan Dana Bergulir)  untuk pinjaman sampai dengan Rp 10-20 miliar. Sementara untuk pelatihan SDM  Kemenkop mengandalkan 49 PLUT (Pusat Layanana Usaha Terpadu) di daerah yang siap membantu koperasi dan UKM  di daerah.

Jakarta 03 November 2016
Humas Kemenkop dan UKM

Sumber: Depkop.go.id