Jakarta – Senyum bangga terpancar jelas di wajah Dwita Mellisa (25) saat menceritakan bisnis yang ditekuninya selama tiga tahun belakangan ini. Sejak 2013, wanita asal Ranah Minang ini menjajal peruntungannya berbisnis serundeng khas Indonesia.

Tak hanya mendatangkan pundi rupiah, bisnisnya tersebut juga kini berhasil mewujudkan impian agar adik bungsunya dapat meraih gelar sarjana. Serundeng yang diproduksinya memiliki khas sendiri. Jika selama ini serundeng identik dengan kelapa parut, namun serundeng yang berlabel Srondeng Mercon’s Kampioen ini terbuat dari bahan dasar ubi.

Dwita juga menonjolkan ciri khas cabai pedas dalam serundeng racikannya tersebut. Dia mengisahkan, awalnya serundeng ubi ini hanya dibuatnya untuk konsumsi sendiri. Setelah beberapa kali membuat, para tetangga yang kebetulan ikut mencicipi langsung menyukai dan memesan serundeng buatannya. Hal ini langsung dilihatnya sebagai peluang bisnis yang patut dijajal.

“Awalnya dulu kita cuma buat konsumsi pribadi, terus dicoba tetangga dan mereka pada suka,” katanya kepada Sindonews belum lama ini.

Dia pun mantap mengomersilkan serundeng ubinya itu. Sayangnya, di tengah semangatnya yang menggelora untuk berbisnis serundeng ubi, Dwita mengalami kendala keuangan, karena kehabisan modal untuk memproduksi serundeng. Lulusan politeknik swasta di Padang ini harus memutar otak agar bisnisnya tidak bangkrut sebelum berkembang. Akhirnya, sekitar awal 2014 memutuskan untuk mengambil kredit usaha rakyat (KUR) di salah satu perbankan pelat merah.

Plafon yang diajukan tak begitu besar, hanya sekitar Rp10 juta. ‎Sebab, Dwita hanya membutuhkannya untuk membeli bahan baku seperti ubi dan cabai rawit. Sementara untuk peralatan, dia mengaku kala itu masih menggunakan peralatan seadanya.

“Kalau dulu fokusnya ke bahan-bahan saja. Kalau dulu yang paling mahal kan cabai rawit, kita pakai cabai asli jadi lebih mahal,” imbuh dia.

‎Perempuan berkerudung ini mengaku sangat terbantu program KUR yang dikembangkan pemerintah. Sebagai pengusaha pemula, KUR tersebut sangat membantu keuangannya. Apalagi, kini bunganya diturunkan sehingga tak memberatkan pengusaha mikro yang keuntungannya belum seberapa.

Terbukti, setelah mendapat kucuran dana dari KUR, bisnis serundeng ubi miliknya pun semakin berkembang. Sehari,‎ Dwita mampu memproduksi serundeng sebanyak 20 kilogram (kg).

Selain itu, produksinya kini tidak terbatas dengan serundeng saja. Beberapa cemilan seperti keripik pisang cokelat leleh, serundek opak, rendang singkong, dan rendang mercon juga dibuat dan dikomersilkan olehnya.

‎”KUR itu ngebantu banget. Apalagi buat pemula kayak gitu. Kan kalau pemula butuh modal banget buat berkembangnya kalau awal-awal gitu.‎ Waktu ngajuinnya juga enggak susah. Paling mereka (bank) survei ke rumah, terus kalau oke langsung cair,” ungkapnya.

Dongkrak Daya Saing UKM

Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) saat ini memang tengah gencar mempromosikan KUR berbunga rendah. Bunga kredit yang tadinya sekitar 22%, perlahan mulai diturunkan menjadi 12%.

Bahkan, sejak awal 2016 bunga KUR sudah turun lagi menjadi 9%. Sebab, pemerintah percaya bahwa UKM menjadi ujung tombak perekonomian nasional.

Semakin ringannya bunga kredit rakyat di bank, Presiden Jokowi mengimbau masyarakat Indonesia tidak lagi tertipu dan meminjam uang untuk modal usaha kepada lintah darat alias rentenir. Selama ini, ketiadaan akses masyarakat khususnya di pedesaan terhadap perbankan membuat mereka memilih meminjam uang kepada rentenir.

“Sekarang KUR bunganya sudah bukan 22%, tapi 9% per tahun. Kalau rentenir itu 9% per bulan. Sekarang silakan ngantre, jangan pinjam ke rentenir lagi. Kecil sekali itu. Jadi gunakan,” imbau Jokowi.

Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga menilai, bunga KUR yang rendah akan membantu UKM dan koperasi memperluas usaha dan mendongkrak daya saing. Selain itu, bunga kredit yang rendah juga akan membentuk UKM dan koperasi baru yang potensial ‎dan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Fungsi pokok kita pembiayaan dan penguatan koperasi. Maka, kita berjuang bagaimana bunga kredit bisa diturunkan dari 22% menjadi 12% dan turun lagi menjadi 9%. Ini sudah dimanfaatkan UKM dan koperasi,” ‎tutur dia.

Kemenkop UKM sendiri menargetkan bisa mengguyur KUR untuk masyarakat sekitar Rp100 triiun hingga Rp120 triliun tahun ini. Kucuran dana tersebut diharapkan bisa diakses sebanyak 55,68 juta UKM di Tanah Air.

Puspayoga percaya, jika dana ini berputar di masyarakat maka akan dapat menggerakkan ekonomi nasional. “Jika dana yang dikucurkan ini bisa berputar di masyarakat dipastikan dapat menggerakkan sektor perekonomian. Bahkan, momentum pasar tunggal ASEAN dapat dijadikan jalan UMKM untuk bisa bertahan dan bersaing,” tuturnya.

Tak hanya memangkas bunga KUR yang tinggi, semangat mendongkrak daya saing UKM juga dilakukan dengan memperluas jangkauan penerima KUR. Kini, calon penerima KUR tidak hanya UKM yang bergelut di sektor pertanian, perdagangan, pengolahan, perikanan, dan ketenagakerjaan saja.

Deputi bidang Pembiayaan Kemenkop UKM Braman Setyo menyebutkan, KUR juga akan diberikan kepada calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri, calon pekerja magang di luar negeri, dan anggota keluarga dari karyawan yang berpenghasilan tetap atau bekerja sebagai TKI.

“Juga untuk TKI yang pernah bekerja di luar negeri dan pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja,” ucap dia.

Baru-baru ini ada tiga koperasi yang mengajukan menjadi penyalur KUR. Ketiganya adalah Kospin Jasa Pekalongan untuk KUR konvensional, Koperasi UGT Sidogiri untuk KUR syariah, dan KSP Karya Peduli khusus untuk KUR TKI dan diharapkan dapat menyalurkan KUR pada Juli 2016.

‎”Kita sudah usul akan hal itu (koperasi jadi penyalur KUR) ke Komite Kebijakan. Tinggal menunggu MoU antara Menteri Koperasi dan UKM dengan Ketua OJK. Mudah-mudahan, akhir Mei bisa segera ditandatangani,” tandasnya.

Sumber: sindonews.com.