Pada Kamis 12 Mei 2016 Koperasi Penabulu diminta oleh kemitraan untuk menyampaikan materi mengenai Koperasi Penabulu Pergeseran budaya masyarakat adat dalam pengorganisasian dan pelembagaan adat. Focus Groups Discussion (FGD) diadakan di Woltermonginsidi Jakarta.

Ada 3 tujuan dalam FGD ini, antara lain, menjadi media refleksi terhadap upaya yang dilakukan berbagai pihak dalam mendorong pengakuan masyarakat adat. Kedua, Memetakan regulasi dan kebijakan tentang masyarakat adat serta hambatan dalam implementasi regulasi yang ada. Ketiga, Merumuskan aspek-aspek penting yang perlu diperkuat dalam penyusunan regulasi dan kebijakan untuk memperkuat posisi masyarakat dalam aspek ekonomi dan kebudayaan.

Agung Fajar dari Koperasi Penabulu mengatakan “masyarakat adat tidak harus anti pasar, tapi juga harus memanfaatkan pasar tersebut untuk kesejahteraan masyarakat adat juga”. Selain itu, Agung menambahkan” usaha masyarakat adat harus memperhatikan aspek kearifan lokal, lingkungan dan keberlanjutan ekonomi dan ekologi.

Agung mengatakan, banyak contoh sukses masyarakat ada yang mengelola ekonominya dengan wadah Koperasi, antara lain, Cisitu, masyarakat Dayak dan lain-lain. Dengan kekuatan ekonomi masyarakat ini, masyarakat adat tidak lagi menjadi penonton di wilayahnya sendiri tapi menjadi pemain utama dalam menentukan nasib ekonomi dan tanahnya.

FGD ini dihadiri juga oleh 20 peserta yang terdiri dari mitra-mitra Partnership dan organisasi masyarakat sipil yang menangani masyarakat adat antara lain, PB Aman, Walhi, Desantara, PPSW, The Asia Foundation, Lakpesdam NU, Kapal Perempuan, IKA.

Selain dari Penabulu sebagai pembicara, pada sesi kedua FGD ini diisi juga oleh Gutomo Bayu dari peneliti LIPI. Gutomo Bayu membawakan tema mengenai Kondisi sosial ekonomi masyarakat adat di Indonesia. Ia menyoroti mengenai masyarakat adat di Lampung tengah dan irisannya dengan kebudayaan dan pola hidup masyarakat adat setelah ada perusahaan di wilayah tersebut.

Sempat mengemuka dalam FGD ini bahwa masalah wilayah adat dan ekonomi masyarakat adat menjadi masalah yang cukup besar saat ini. Sebagai kata kunci dalam FGD ini, masyarakat dapat bernegosiasi dengan perusahaan dan pasar, karena aliran globalisasi tidak bisa ditolak serta perkembangan adalah suatu keniscayaan.